Minggu, 14 September 2014

Rindu

Rindu adalah perasaan dimana aku menginginkan kamu ada disini, disampingku. Berbagi kisah lewat tawa renyahmu yang membuatku nyaman, mungkin bisa kamu tambahkan pelukan hangat yang membuatku merasa aman disampingmu.

Aku kurang paham mengapa ada perbedaan definisi rindu yang terjadi antara pria dan wanita. Mungkin perbedaan itu terjadi karena pria lebih menggunakan logikanya ketimbang perasaannya, sedangkan wanita lebih menggunakan perasaanya ketimbang logikanya. Semua berjalan seimbang, saling melengkapi. Itulah yang memang harus dilakukan oleh cinta. Cinta yang melakukannya, tanpa paksaan.

Wanita merasakan rindu setiap waktu, terlebih saat mereka tidak sengaja memikirkan sosok pria yang begitu dikaguminya. Dan pria, mereka merasakan rindu saat memori mereka mulai bertanya kapan terakhir kali ia bertemu dengan wanitanya. Sungguh wajar jika perbedaan ini terlihat jelas. Bukan karena wanita dan pria jelas berbeda, tapi karena mereka mendefinisikan cinta dari arah yang berbeda.

Saat aku merindukan sosok pria yang membuatku rela tidur larut malam hanya untuk mendengar kabarnya. Aku merasakan sesuatu yang mungkin kamu tidak bisa merasakannya, karena rasa ini tidak bisa diukur oleh logika. Rasa yang memenuhi memori otakku, menahanku terjaga disetiap malam, memutar kembali kenangan yang kita lalui bersama. Yak! Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Rinduku berbeda dengan rindu yang kau rasakan. Rindu yang mustahil terobati meskipun dengan pertemuan. Entah ini adalah perasaan yang diberikan Tuhan hanya untuk wanita atau bagaimana aku tidak mengerti. Yang jelas, mengartikan perasaan rindu seorang wanita itu tidak mudah, sulit dimengerti.

Kami tidak mudah mengatakan rindu, terlebih kepada pria yang bukan milik kami. Dan menahan rindu itu tidak mudah, sering kali kami meneteskan air mata hanya karena rindu. Rindu menyiksa kami, menahan memori agar tetap disini, tetap berdiam diri dan merenung, lantas bagaimana dengan hari-hari kami? Kami mengatakan rindu jika kami benar benar tidak bisa menyembunyikannya sendirian. Kami ingin kalian tahu jika kami rindu. Mungkin sebagian dari kalian para pria berfikir, “Lantas apa yang harus kami lakukan jika mereka rindu?” Pertanyaan yang logis. Sebenarnya kami tidak menuntut pertemuan agar rindu kami ‘sedikit’ terobati. Kami hanya ingin tahu apakah kalian merasakan sama seperti yang kami rasakan atau tidak, sesimple itu. Kami juga tidak menuntut kalian mengatakan “Aku juga rindu kamu.” Sekali lagi, kami hanya ingin memberitahu kalian bahwa rindu ini menyiksa kami. Kami tidak bisa menyimpannya sendirian. Mengertilah.


dari wanita yang sedang menahan rindu.

Sabtu, 13 September 2014

Pandanganku

Aku tidak tahu harus mulai dari mana, kisah ini begitu rumit. Perjalanan cinta remaja labil yang menumpahkan banyak air mata. Aku tahu seharusnya tidak sebegitu memikirkan tentang cinta saat masih berkelana mencari tujuan hidup di bangku sekolah. Entah harus melakukan apa agar cinta tak menguasaiku, menguasai setiap jengkal perasaan yang berujung air mata. Awalnya memang manis, menimbulkan semangat untuk meraih semua mimpi yang kubuat. Sampai pada akhirnya, cinta berubah menjadi sosok yang menakutkan, meraih semua anganku, memutuskan asa ini. Hanya tinggal raut wajah murung dan air mata yang menetes di pipi. Perasaan perempuan sangat sensitive, kami begitu mendewakan perasaan cinta kami kepada seorang laki-laki yang bahkan menjatuhkan air mata kami tanpa rasa bersalah, membuat hari-hari kami penuh dengan raut wajah kosong, membuat kamar kami berantakan dengan tisu bekas air mata yang kau buat. Kami paham air mata kami mahal, seharusnya kami tidak memberikannya kepada orang yang telah menyakiti kami. Tapi jika itu yang anda pikirkan anda salah, kami tidak menjatuhkan air mata kami dengan sia-sia. Kami menjatuhkan air mata karena mulut kami lelah untuk menjelaskan betapa hancurnya hati kamu akan sikap kalian yang meyakiti perasaan kami tanpa kalian sadari. Lalu jika kami tersakiti apa kami bisa langsung mengatakannya pada kalian? Maaf, cukup kami yang tau seberapa sakitnya, kalian jangan.

Menjalani hubungan memang tidak mudah (pada akhirnya). Awalnya memang mudah, penuh kata cinta, penuh kasih sayang, penuh canda tawa. Dan ketika hubunganmu sampai pada titik dimana banyak masalah yang datang. Salah satu diantara kita mempunyai alasan untuk bertahan, sedangkan yang lain mencari alasan untuk meninggalkan. Banyak wanita yang akan meninggalkanmu ketika mengetahui sifat aslimu. Bisa kau hitung siapa saja wanita yang tetap bertahan, memang tak banyak. Mereka yang bertahan adalah mereka yang memiliki satu alasan untuk tetap tinggal walaupun berdarah-darah. Seharusnya kalian para pria sadar, wanita seperti itu harusnya kalian pertahankan. Mereka menjelaskan rasa cintanya dengan rasa sakit ketika melihat kalian lebih nyaman dengan wanita lain, lalu dengan air mata yang jatuh karena hatinya tercabik-cabik. Mereka lemah, tidak setegar kalian yang bisa membuat air matanya terjatuh. Mungkin kalian berfikir kalau mereka overprotective, mereka hanya ingin kalian tau bahwa mereka mencintaimu dan mereka menginginkan kalian tidak menyakitinya terus menerus. Memang tak bisa dimengerti dengan logika, cinta itu masalah hati, pakai perasaan. Bukan berarti tidak pakai logika, tapi lebih banyak menggunakan perasaan. Wanita sulit ditebak, banyak yang bisa menyembunyikan rasa sakitnya dalam tawa yang menyejukkan. Namun banyak juga mereka yang tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya, mungkin karena terlalu sakit.

Rindu. Rasa yang setiap detik menyiksa kami, sebagai perempuan. Banyak pria yang menganggap rindu hanya datang jika lama tidak bertemu. Anda salah. Kami merasakannya setiap waktu, rasa ini memang tidak bisa dimengerti dengan logika. Kami mengatakan bahwa kami rindu bukan berarti kami menuntut pertemuan. Bukan! Kami hanya ingin kalian tau bahwa kami rindu, rasa ini tidak semudah dan semenyenangkan yang kalian fikirkan. Rasa ini menyiksa kami, maka dari itu kami mengatakannya pada kalian. Apa susahnya mengatakan “aku juga rindu kamu” untuk sekedar menyenangkan kami. Itu yang kami inginkan, setelah itu mungkin rindu tidak terlalu menyiksa kami ‘lagi’.




Perempuan yang rela berdarah darah demi pria-nya.