Selasa, 25 November 2014

Rindu jadah

Ingatkah saat kita pertama kali bertemu, di lapangan basket belakang sekolah. Suatu pertemuan yang tak kuduga akan membuahkan kenangan sebesar ini. Sejauh kita bersama, selama tiga tahun terakhir. Aku tak ingin kebersamaan ini berakhir, canda tawamu, tangismu, pelukmu, semua telah membekas di memori. Dengan air mata yang mulai mengalir di pipi, aku ingin bercerita tentang ‘kita’. Akan ku ajak kalian mengais masa lalu, memutar memori tentang kita.

Ingatkah dulu? Saat kita disatukan dalam satu pleton yang mewakili salah satu sekolah menengah pertama di daerah Sleman? Jelas kuingat, saat itu kita masih polos, tidak tahu apa itu baris-berbaris, apa itu langkah tegap, apa itu jalan ditempat. Seiring berjalannya waktu, lomba pertama yang kita jalani meraih peringkat ke-39. Dengan jerih payah, keringat yang menetes di sela sela latihan, kita bisa naik ke peringkat 4.

Perjalanan kita tidak mudah, untuk sampai di titik ini. Masih ingat beberapa diantara kita keluar dari tonti, begitu juga aku? Aku bersyukur, pada saat itu aku memilih masuk pleton lagi, ya setelah perjuangan beberapa dari kalian yang membujukku kembali bahkan dengan airmata. Ingat saat latian di lapangan basket? Pleton kita hanya berjumlah 23 kalau tidak salah, dan pada saat itu kita masih tidak bertanggung jawab. Airmata mulai mengucur deras saat melihat Bella, selaku ketua pleton kita harus menanggung semua kesalahan kita dengan push up sebanyak itu. Dan sore itupun berlalu, dengan air mata yang tak terhitung.

Tonti bukan hanya masalah baris berbaris, bukan hanya kedisiplinan, tapi rasa kekeluargaan, dan kebersamaan antara satu dengan yang lain. Sejak dua bulan terakhir, aku merasa takut kehilangan kalian, jadah. Ya, nama pleton kami memang jadah, beberapa orang menyebutnya spegama jadah. Pelatih kami yang memberi nama itu. Katanya, jadah itu lengket, tak terpisahkan. Pleton adik kelas kami namanya tempe. Jika disatukan menjadi Jadah Tempe, yang merupakan makanan khas daerah Sleman. Dengan harapan, jadah tempe bisa membanggakan daerah Sleman.

Terimakasih atas pengorbanan kalian jadah, kita bisa masuk tiga besar di lomba PPI Sleman, mewujudkan cita-cita untuk menginjakkan kaki di Mandala Krida dalam PPI DIY dengan seragam ‘telo’ kebanggaan kami. Pulang magrib, hujan-hujanan, push up di aspal, kaki-tangan pegel-pegel, badan remuk, dan semua perjuangan kami, membuahkan hasil, peringkat 5 PPI DIY ada di tangan kami, tentunya dengan jerih payah pelatih yang dengan sabar melatih kami meskipun kami ‘mblung’. Terimakasih yang sebesar besarnya kami ucapkan untuk Kak Yollan, Kak Nur, dan Kak Ulfa. Kalian adalah guru terbaik kami, bukan hanya guru tonti, namun guru yang mengajarkan kehidupan luarbiasa untuk kami.

Aku sampai lupa ingin menceritakan ini. Kejadian yang terjadi dua hari yang lalu, sepulang dari lomba di Mandala krida. Setelah menyelesaikan 4 pos, sebenarnya kami ingin tetap disana, menunggu pengumuman hasil lomba. Kami yakin kami bisa masuk 5 besar, meskipun begitu kami juga siap pada kemungkinan terburuk, untuk pulang dengan tangan hampa. Namun keinginan ini tak mungkin terjadi, kami harus pulang ke sekolah, itu peraturan dari sekolah. Sesampainya di sekolah, kami menangis, menyesal kenapa kami tidak bisa melihat pengumuman hasilnya disana, mungkin bagi sebagian dari anda berfikir bahwa ini terlihat berlebihan. Terserah anda menilai kami bagaimana, tapi kami ingin melihat pengumuman, kami yakin akan perjuangan kami, jika panitia akan menyebut nama sekolah kami saat mengumumkan peringkat 1-5 nanti. Kami ber-sebelas, nekat untuk kembali ke mandala krida, tanpa suruhan dari siapapun apalagi pelatih. Kami sudah mengantongi izin dari orangtua kami, meskipun hanya uang seadanya yang tersisa, kami berangkat ke terminal Jombor untuk naik Trans Jogja. Sekitar pukul 2 siang, kita sampai lagi di Mandala Krida. Siap akan konsekuensi yang harus diterima jika dimarahi guru. Perjuangan kami kembali ke Mandala Krida tidak sia-sia, panitia menyebut nama sekolah kami saat menyebutkan juara harapan dua. Syukur Alhamdulillah.

Perjalanan pulang dari Mandala Krida menuju sekolah yang takkan kulupa, bersama pelatih super. Canda tawa di dalam bis, yang juga kuratapi dengan mengingat ini adalah lomba terakhir kami. Takkan ada lagi push up ditengah gerimisnya hujan di lapangan pemda, takkan ada lagi pulang magrib yang berakhir dengan nasihat orangtua, takkan ada lagi marahnya Kak Yollan jika kami tak mau angkat tinggi karna kelelahan, takkan ada lagi peluk hangat Kak Ulfa saat air mata kami menetes, takkan ada lagi selfie konyol bareng Kak Nur. Ku mohon, jangan jadikan ini perpisahan, aku tak ingin berpisah dengan kalian. Dapatkah semua kenangan ini terulang? Jangan lupakan aku, jangan lupakan kami. Takkan mungkin kulupakan kalian, apalagi kenangan kita. Seiring derai tawa dan tangis yang tercipta kau masih keluarga kami. Dan kita akan tetap menjadi keluarga. Aku selalu merindukanmu, Spegama jadah.



Dari perempuan dengan jas ‘telo’ yang mencintai ‘jadah’nya.

1 komentar: