Perempuan mana yang rela menunggu seseorang selama tiga tahun terakhir, seseorang yang tak mungkin diraihnya. Penantian yang sia-sia bukan? Menjaga hati seseorang, namun hatinya sendiri telah hancur. Sungguh malang. Menahan rasa cemburu yang tak berhak, menahan ego lalu membiarkan air mata menetes sambil tetap melengkungkan senyum dibibirnya yang mungil.
Aku tak tahu apa yang merasuki pikiran serta hatinya, cintanya kepada laki-laki itu begitu besar, mengalahkan semua logika akan ketidakmungkinan yang terjadi. Apakah laki-laki itu menyadari akan perasaan perempuan ini? Menyadari seberapa besar pengorbanan yang telah dilakukannya untuk laki-laki itu. Aku tahu perempuan ini tak bermaksud untuk mengganggumu. Ia hanya mengikuti kemana hatinya berlabuh, tanpa arah. Dan saat ini, arahnya menuju dirimu.
Jika perasaanmu tenyata untuk oranglain, mungkin ia bisa memakluminya. Karena cinta tak mungkin dipaksa. Paksaan hanya akan menghasilkan luka, entah melukaimu atau melukainya. Kurasa, dari setiap airmata yang ia tumpahkan saat menceritakan betapa pedih hatinya ketika ia melihatmu berlalu bersama perempuan lain, bisa kurasakan tulusnya cinta yang ia berikan padamu. Bisakah kau merasakannya lalu menghargainya? Dimana letak hatimu? Bagaimana jika kau ada diposisinya? Kau akan merasakan sakitnya diabaikan, bukan hanya hitungan bulan, ia merasakannya selama tiga tahun. Butuh sosok yang sangat tegar untuk menghadapinya. Betapapun kau tak menghargai perasaannya, ada saatnya dimana kau merasakan hal yang sama. Banyak orang yang menyebutnya karma. Aku tak begitu mempercayainya, yang ku tahu, setiap perbuatan akan ada balasannya, entah nanti di akhirat atau di dunia. Itulah yang kupercaya.
Ada saatnya kau menyadari dialah orang yang paling tulus mencintaimu, tanpa mengharap balas apapun. Dialah yang kau sakiti, yang kau lukai perasaannya. Semua akan ada waktunya, balasan Tuhan tak pernah salah, Ia selalu adil kepada hamba-Nya, Ia akan membayar seluruh air mata perempuan itu yang jatuh karena kau sakiti. Ku mohon, sadarlah. Sebelum semuanya terlambat.
teruntuk sahabatku, yang rela berdarah demi orang yang menyakitinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar