Ketika aku kau abaikan, ketika kau sibuk dengan perempuan lain, ketika kau lebih asik dengan hobimu, sejujurnya aku ingin menunjukkan rasa sakitku. Tapi untuk apa? Aku tidak ada hak, aku bukan siapa-siapamu. Hanya sebatas persinggahan jika kamu bosan dengan duniamu. Maaf jika perasaanku tumbuh melebihi batas, salahmu yang memberiku harapan serta celah untuk menyayangimu lebih dari sekedar teman biasa. Oh maaf, ini bukan salahmu. Semua ini salahku, membiarkan rasa ini tumbuh semakin liar, dan mulai menggerogoti setiap kebahagiaan yang seharusnya kudapatkan. Namun tak apa, aku bahagia menjalani ini semua, harapan semu, airmata harian, dan semua yang terjadi. Membuatku menjadi perempuan yang lebih tegar, lebih kuat, hingga aku terbiasa dengan rasa sakit.
Betapa bodohnya aku yang sering kali lupa akan status kita. Seharusnya aku sadar, lalu memilih diam. Menyembunyikan rasa sakitku ketika kau abaikan, dan menyembunyikan cemburuku ketika kau dengan perempuan lain. Tapi apakah kau tau, betapa sulit menyembunyikan itu semua. Aku sering gagal, lalu diam-diam ku ungkapkan lewat air mata yang menetes di pipi yang dilengkapi dengan senyum terbaikku, aku masih baik-baik saja. Dan (harus) selalu begitu.
Persinggahan, tempatmu melarikan diri dari duniamu, tempatmu bersandar ketika kau lelah, tempatmu menumbuhkan bunga lalu kau cabut dan kau beri kepada perempuanmu. Itulah aku, posisi yang sedang kujalani. Sulit, sakit, tapi tetap bertahan. Tetap percaya jika kau memiliki perasaan yang sama terhadapku, dengan cinta semu yang kau tunjukkan lewat perhatian kecil, rayuan manis, serta perlakuanmu yang menerbangkanku jauh ke awan. Namun, kau menjatuhkanku lebih keras lagi. Menyadarkanku bahwa aku bukan siapa-siapamu. Haha, aku memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perempuan-perempuanmu yang lain. Tapi bisa kah kau lihat ketulusanku? Ah tidak perlu, aku tak menuntut banyak. Hanya butuh bahumu untuk bersandar, butuh genggam tanganmu untuk temani aku lari dari lelahku saat ini. Temani aku... aku mulai lelah dengan semua ini.
Harapan ini memang indah, manis meskipun semu. Aku masih bisa menikmatinya. Menikmati setiap rayuan manismu yang (kutahu) untuk banyak perempuan diluar sana. Aku masih bisa tersenyum, meskipun dengan air mata yang menetes di pipi. Namun, apakah kau tahu? Aku tak sekuat apa yang kamu lihat. Aku lemah, lebih lemah dari semua perempuan yang kau tahu. Aku takut jika ingin menunjukkan rasaku lebih jauh lagi, aku takut kau malah pergi disaat aku sedang cinta-cintanya. Kumohon, jangan lukai aku lebih jauh lagi.
dari perempuan yang mencintaimu dengan tulus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar