Rabu, 24 Desember 2014

Kamu

Alasan mengapa aku bisa bertahan sejauh ini. Tak kembali terpuruk karna patah hati. Bisa tersenyum bahkan tertawa lagi. Adalah kamu. Kamu yang berhasil menyembuhkan lukaku, mengobati dukaku. Ah, aku jatuh cinta.

Seseorang yang kukenal sejak lebih dari dua tahun yang lalu. Tapi baru kukenal dekat beberapa bulan terakhir. Dia romantis, perhatian, baik, sangat perasa dan agak keras kepala. Seiring berjalannya hari, entah harus ku sebut apa, ada sesuatu yang merasuki hati ini. Terselip rindu bila tak melihatnya, terbesit cemas bila ia menghilang dari chat on BBM. Aku mulai menyukainya. "Hei, jangan terlalu berharap. Dia menyukai perempuan lain!" kata otakku. "Ikuti aku, dengarkan perasaanmu." balas hatiku. Terjadi perdebatan disini, bahkan otakku bisa menebak akhir dari cerita ini. Ya, tak akan berakhir indah. But different with ma heart. Ia mengatakan hal yang berbeda, hatiku memberi secercah harapan agar bisa bahagia lagi. Entah bagaimana caranya. Memilih menjadi 'secret admirer' itu tidak mudah, ya semacam penggemar rahasia. Hanya bertemu dalam doa, dan memakai topeng bahwa kau tidak menyukainya. Itu sulit.

Yak, seiring berjalannya waktu (lagi), aku mulai lelah akan kebohongan ini, membohongi diri sendiri. Aku semakin menyukainya, aku menyayanginya! Perhatianku tak terbendung, mungkin dia akan tahu tentang perasaanku. Jika dia tahu, aku harus siap akan konsekuensinya, ya siap jika kamu memilih untuk menjauh. Perjuangan bukanlah perihal datang lalu jika hatimu dihancurkan kamu pergi. Perjuangan adalah seberapa besar pun usahanya untuk menghancurkan rasa sayangmu, kamu tetap disini, tak beranjak bahkan untuk  mempertimbangkan pergi sekalipun.

Perjuangan yang berbuah manis, walau sering kali terluka akan fakta menyedihkan yang ketemukan namun kusimpan rapat-rapat, aku membuatmu jatuh cinta. Oh aku jadi ingat, "Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta kepadaku" Risalah Hati by Dewa19. This song, make me feel "ugh." Jadi, ayo berjuang bersama, temani aku berjuang. "Tunggu dulu, tak semudah itu, banyak yang harus difikirkan", itulah yang tersirat dari tatapan matamu yang tajam. Namun aku tak mau berhenti disini, aku percaya akan harapan ini. You're my sun, not my rainbow. Kita hanya menunggu waktu yang tepat, menunggu saat semuanya sudah siap. Aku akan disini, selalu disini. Menunggumu.




dari perempuan yang sedang jatuh cinta dan merindukanmu.

Rabu, 26 November 2014

Rasa ini

Ketika aku kau abaikan, ketika kau sibuk dengan perempuan lain, ketika kau lebih asik dengan hobimu, sejujurnya aku ingin menunjukkan rasa sakitku. Tapi untuk apa? Aku tidak ada hak, aku bukan siapa-siapamu. Hanya sebatas persinggahan jika kamu bosan dengan duniamu. Maaf jika perasaanku tumbuh melebihi batas, salahmu yang memberiku harapan serta celah untuk menyayangimu lebih dari sekedar teman biasa. Oh maaf, ini bukan salahmu. Semua ini salahku, membiarkan rasa ini tumbuh semakin liar, dan mulai menggerogoti setiap kebahagiaan yang seharusnya kudapatkan. Namun tak apa, aku bahagia menjalani ini semua, harapan semu, airmata harian, dan semua yang terjadi. Membuatku menjadi perempuan yang lebih tegar, lebih kuat, hingga aku terbiasa dengan rasa sakit.

Betapa bodohnya aku yang sering kali lupa akan status kita. Seharusnya aku sadar, lalu memilih diam. Menyembunyikan rasa sakitku ketika kau abaikan, dan menyembunyikan cemburuku ketika kau dengan perempuan lain. Tapi apakah kau tau, betapa sulit menyembunyikan itu semua. Aku sering gagal, lalu diam-diam ku ungkapkan lewat air mata yang menetes di pipi yang dilengkapi dengan senyum terbaikku, aku masih baik-baik saja. Dan (harus) selalu begitu.

Persinggahan, tempatmu melarikan diri dari duniamu, tempatmu bersandar ketika kau lelah, tempatmu menumbuhkan bunga lalu kau cabut dan kau beri kepada perempuanmu. Itulah aku, posisi yang sedang kujalani. Sulit, sakit, tapi tetap bertahan. Tetap percaya jika kau memiliki perasaan yang sama terhadapku, dengan cinta semu yang kau tunjukkan lewat perhatian kecil, rayuan manis, serta perlakuanmu yang menerbangkanku jauh ke awan. Namun, kau menjatuhkanku lebih keras lagi. Menyadarkanku bahwa aku bukan siapa-siapamu. Haha, aku memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perempuan-perempuanmu yang lain. Tapi bisa kah kau lihat ketulusanku? Ah tidak perlu, aku tak menuntut banyak. Hanya butuh bahumu untuk bersandar, butuh genggam tanganmu untuk temani aku lari dari lelahku saat ini. Temani aku... aku mulai lelah dengan semua ini.

Harapan ini memang indah, manis meskipun semu. Aku masih bisa menikmatinya. Menikmati setiap rayuan manismu yang (kutahu) untuk banyak perempuan diluar sana. Aku masih bisa tersenyum, meskipun dengan air mata yang menetes di pipi. Namun, apakah kau tahu? Aku tak sekuat apa yang kamu lihat. Aku lemah, lebih lemah dari semua perempuan yang kau tahu. Aku takut jika ingin menunjukkan rasaku lebih jauh lagi, aku takut kau malah pergi disaat aku sedang cinta-cintanya. Kumohon, jangan lukai aku lebih jauh lagi.


dari perempuan yang mencintaimu dengan tulus.

Penantian sia-sia

Perempuan mana yang rela menunggu seseorang selama tiga tahun terakhir, seseorang yang tak mungkin diraihnya. Penantian yang sia-sia bukan? Menjaga hati seseorang, namun hatinya sendiri telah hancur. Sungguh malang. Menahan rasa cemburu yang tak berhak, menahan ego lalu membiarkan air mata menetes sambil tetap melengkungkan senyum dibibirnya yang mungil.

Aku tak tahu apa yang merasuki pikiran serta hatinya, cintanya kepada laki-laki itu begitu besar, mengalahkan semua logika akan ketidakmungkinan yang terjadi. Apakah laki-laki itu menyadari akan perasaan perempuan ini? Menyadari seberapa besar pengorbanan yang telah dilakukannya untuk laki-laki itu. Aku tahu perempuan ini tak bermaksud untuk mengganggumu. Ia hanya mengikuti kemana hatinya berlabuh, tanpa arah. Dan saat ini, arahnya menuju dirimu.

Jika perasaanmu tenyata untuk oranglain, mungkin ia bisa memakluminya. Karena cinta tak mungkin dipaksa. Paksaan hanya akan menghasilkan luka, entah melukaimu atau melukainya. Kurasa, dari setiap airmata yang ia tumpahkan saat menceritakan betapa pedih hatinya ketika ia melihatmu berlalu bersama perempuan lain, bisa kurasakan tulusnya cinta yang ia berikan padamu. Bisakah kau merasakannya lalu menghargainya? Dimana letak hatimu? Bagaimana jika kau ada diposisinya? Kau akan merasakan sakitnya diabaikan, bukan hanya hitungan bulan, ia merasakannya selama tiga tahun. Butuh sosok yang sangat tegar untuk menghadapinya.  Betapapun kau tak menghargai perasaannya, ada saatnya dimana kau merasakan hal yang sama. Banyak orang yang menyebutnya karma. Aku tak begitu mempercayainya, yang ku tahu, setiap perbuatan akan ada balasannya, entah nanti di akhirat atau di dunia. Itulah yang kupercaya.

Ada saatnya kau menyadari dialah orang yang paling tulus mencintaimu, tanpa mengharap balas apapun. Dialah yang kau sakiti, yang kau lukai perasaannya. Semua akan ada waktunya, balasan Tuhan tak pernah salah, Ia selalu adil kepada hamba-Nya, Ia akan membayar seluruh air mata perempuan itu yang jatuh karena kau sakiti. Ku mohon, sadarlah. Sebelum semuanya terlambat.




teruntuk sahabatku, yang rela berdarah demi orang yang menyakitinya.

Selasa, 25 November 2014

Rindu jadah

Ingatkah saat kita pertama kali bertemu, di lapangan basket belakang sekolah. Suatu pertemuan yang tak kuduga akan membuahkan kenangan sebesar ini. Sejauh kita bersama, selama tiga tahun terakhir. Aku tak ingin kebersamaan ini berakhir, canda tawamu, tangismu, pelukmu, semua telah membekas di memori. Dengan air mata yang mulai mengalir di pipi, aku ingin bercerita tentang ‘kita’. Akan ku ajak kalian mengais masa lalu, memutar memori tentang kita.

Ingatkah dulu? Saat kita disatukan dalam satu pleton yang mewakili salah satu sekolah menengah pertama di daerah Sleman? Jelas kuingat, saat itu kita masih polos, tidak tahu apa itu baris-berbaris, apa itu langkah tegap, apa itu jalan ditempat. Seiring berjalannya waktu, lomba pertama yang kita jalani meraih peringkat ke-39. Dengan jerih payah, keringat yang menetes di sela sela latihan, kita bisa naik ke peringkat 4.

Perjalanan kita tidak mudah, untuk sampai di titik ini. Masih ingat beberapa diantara kita keluar dari tonti, begitu juga aku? Aku bersyukur, pada saat itu aku memilih masuk pleton lagi, ya setelah perjuangan beberapa dari kalian yang membujukku kembali bahkan dengan airmata. Ingat saat latian di lapangan basket? Pleton kita hanya berjumlah 23 kalau tidak salah, dan pada saat itu kita masih tidak bertanggung jawab. Airmata mulai mengucur deras saat melihat Bella, selaku ketua pleton kita harus menanggung semua kesalahan kita dengan push up sebanyak itu. Dan sore itupun berlalu, dengan air mata yang tak terhitung.

Tonti bukan hanya masalah baris berbaris, bukan hanya kedisiplinan, tapi rasa kekeluargaan, dan kebersamaan antara satu dengan yang lain. Sejak dua bulan terakhir, aku merasa takut kehilangan kalian, jadah. Ya, nama pleton kami memang jadah, beberapa orang menyebutnya spegama jadah. Pelatih kami yang memberi nama itu. Katanya, jadah itu lengket, tak terpisahkan. Pleton adik kelas kami namanya tempe. Jika disatukan menjadi Jadah Tempe, yang merupakan makanan khas daerah Sleman. Dengan harapan, jadah tempe bisa membanggakan daerah Sleman.

Terimakasih atas pengorbanan kalian jadah, kita bisa masuk tiga besar di lomba PPI Sleman, mewujudkan cita-cita untuk menginjakkan kaki di Mandala Krida dalam PPI DIY dengan seragam ‘telo’ kebanggaan kami. Pulang magrib, hujan-hujanan, push up di aspal, kaki-tangan pegel-pegel, badan remuk, dan semua perjuangan kami, membuahkan hasil, peringkat 5 PPI DIY ada di tangan kami, tentunya dengan jerih payah pelatih yang dengan sabar melatih kami meskipun kami ‘mblung’. Terimakasih yang sebesar besarnya kami ucapkan untuk Kak Yollan, Kak Nur, dan Kak Ulfa. Kalian adalah guru terbaik kami, bukan hanya guru tonti, namun guru yang mengajarkan kehidupan luarbiasa untuk kami.

Aku sampai lupa ingin menceritakan ini. Kejadian yang terjadi dua hari yang lalu, sepulang dari lomba di Mandala krida. Setelah menyelesaikan 4 pos, sebenarnya kami ingin tetap disana, menunggu pengumuman hasil lomba. Kami yakin kami bisa masuk 5 besar, meskipun begitu kami juga siap pada kemungkinan terburuk, untuk pulang dengan tangan hampa. Namun keinginan ini tak mungkin terjadi, kami harus pulang ke sekolah, itu peraturan dari sekolah. Sesampainya di sekolah, kami menangis, menyesal kenapa kami tidak bisa melihat pengumuman hasilnya disana, mungkin bagi sebagian dari anda berfikir bahwa ini terlihat berlebihan. Terserah anda menilai kami bagaimana, tapi kami ingin melihat pengumuman, kami yakin akan perjuangan kami, jika panitia akan menyebut nama sekolah kami saat mengumumkan peringkat 1-5 nanti. Kami ber-sebelas, nekat untuk kembali ke mandala krida, tanpa suruhan dari siapapun apalagi pelatih. Kami sudah mengantongi izin dari orangtua kami, meskipun hanya uang seadanya yang tersisa, kami berangkat ke terminal Jombor untuk naik Trans Jogja. Sekitar pukul 2 siang, kita sampai lagi di Mandala Krida. Siap akan konsekuensi yang harus diterima jika dimarahi guru. Perjuangan kami kembali ke Mandala Krida tidak sia-sia, panitia menyebut nama sekolah kami saat menyebutkan juara harapan dua. Syukur Alhamdulillah.

Perjalanan pulang dari Mandala Krida menuju sekolah yang takkan kulupa, bersama pelatih super. Canda tawa di dalam bis, yang juga kuratapi dengan mengingat ini adalah lomba terakhir kami. Takkan ada lagi push up ditengah gerimisnya hujan di lapangan pemda, takkan ada lagi pulang magrib yang berakhir dengan nasihat orangtua, takkan ada lagi marahnya Kak Yollan jika kami tak mau angkat tinggi karna kelelahan, takkan ada lagi peluk hangat Kak Ulfa saat air mata kami menetes, takkan ada lagi selfie konyol bareng Kak Nur. Ku mohon, jangan jadikan ini perpisahan, aku tak ingin berpisah dengan kalian. Dapatkah semua kenangan ini terulang? Jangan lupakan aku, jangan lupakan kami. Takkan mungkin kulupakan kalian, apalagi kenangan kita. Seiring derai tawa dan tangis yang tercipta kau masih keluarga kami. Dan kita akan tetap menjadi keluarga. Aku selalu merindukanmu, Spegama jadah.



Dari perempuan dengan jas ‘telo’ yang mencintai ‘jadah’nya.

Sabtu, 01 November 2014

Hubungan tanpa status

Suka? Iya.  Sayang? Iya. Cinta? Entah, mungkin iya. Apakah kau tau akan perasaanku padamu? Apakah kamu memiliki perasaan yang sama? Apakah kamu masih mencintai mantan kekasihmu? Atau kamu suka dengan oranglain? Mengapa kau seakan memberiku secercah harapan? Menerbangkanku ke awan lalu menjatuhkanku begitu saja. Masih banyak pertanyaan yang (sebenarnya) ingin kutanyakan padamu. Tapi apa hak ku? Kita hanya sebatas teman. Mungkin kah kita melampauinya? Memenangkan rasaku yang begitu besar setelah kau memberiku kenyamanan dan mengobati lukaku? Semoga semua ini berakhir indah. Begitulah doaku.

Aku tau seharusnya aku tidak berharap sejauh ini saat perasaanmu saja masih begitu mengharapkan dia. Namun bagaimana dengan harapan yang kau berikan? Bukannya aku ingin menuntut banyak hal darimu. Dengan hubungan kita yang seperti ini saja aku sudah bahagia. Namun saat melihatmu bersama perempuan lain, ada rasa tak rela yang merasuki pikiranku, sebut saja rasa itu cemburu. Untuk apa aku cemburu? Memangnya aku siapa, kekasihmu? Haha, bodoh!  Bisa sedekat ini denganmu saja aku sudah bersyukur. Jadi untuk apa aku menunjukannya cemburuku padamu? Agar dikasihani? Oh, tidak. Aku tahu diri akan posisiku
.
Tenanglah, aku tidak akan menuntut apapun darimu. Andai kau tau, kau adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan.

dari seseorang yang kehabisan cara

mengungkapkan perasaan

Minggu, 14 September 2014

Rindu

Rindu adalah perasaan dimana aku menginginkan kamu ada disini, disampingku. Berbagi kisah lewat tawa renyahmu yang membuatku nyaman, mungkin bisa kamu tambahkan pelukan hangat yang membuatku merasa aman disampingmu.

Aku kurang paham mengapa ada perbedaan definisi rindu yang terjadi antara pria dan wanita. Mungkin perbedaan itu terjadi karena pria lebih menggunakan logikanya ketimbang perasaannya, sedangkan wanita lebih menggunakan perasaanya ketimbang logikanya. Semua berjalan seimbang, saling melengkapi. Itulah yang memang harus dilakukan oleh cinta. Cinta yang melakukannya, tanpa paksaan.

Wanita merasakan rindu setiap waktu, terlebih saat mereka tidak sengaja memikirkan sosok pria yang begitu dikaguminya. Dan pria, mereka merasakan rindu saat memori mereka mulai bertanya kapan terakhir kali ia bertemu dengan wanitanya. Sungguh wajar jika perbedaan ini terlihat jelas. Bukan karena wanita dan pria jelas berbeda, tapi karena mereka mendefinisikan cinta dari arah yang berbeda.

Saat aku merindukan sosok pria yang membuatku rela tidur larut malam hanya untuk mendengar kabarnya. Aku merasakan sesuatu yang mungkin kamu tidak bisa merasakannya, karena rasa ini tidak bisa diukur oleh logika. Rasa yang memenuhi memori otakku, menahanku terjaga disetiap malam, memutar kembali kenangan yang kita lalui bersama. Yak! Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Rinduku berbeda dengan rindu yang kau rasakan. Rindu yang mustahil terobati meskipun dengan pertemuan. Entah ini adalah perasaan yang diberikan Tuhan hanya untuk wanita atau bagaimana aku tidak mengerti. Yang jelas, mengartikan perasaan rindu seorang wanita itu tidak mudah, sulit dimengerti.

Kami tidak mudah mengatakan rindu, terlebih kepada pria yang bukan milik kami. Dan menahan rindu itu tidak mudah, sering kali kami meneteskan air mata hanya karena rindu. Rindu menyiksa kami, menahan memori agar tetap disini, tetap berdiam diri dan merenung, lantas bagaimana dengan hari-hari kami? Kami mengatakan rindu jika kami benar benar tidak bisa menyembunyikannya sendirian. Kami ingin kalian tahu jika kami rindu. Mungkin sebagian dari kalian para pria berfikir, “Lantas apa yang harus kami lakukan jika mereka rindu?” Pertanyaan yang logis. Sebenarnya kami tidak menuntut pertemuan agar rindu kami ‘sedikit’ terobati. Kami hanya ingin tahu apakah kalian merasakan sama seperti yang kami rasakan atau tidak, sesimple itu. Kami juga tidak menuntut kalian mengatakan “Aku juga rindu kamu.” Sekali lagi, kami hanya ingin memberitahu kalian bahwa rindu ini menyiksa kami. Kami tidak bisa menyimpannya sendirian. Mengertilah.


dari wanita yang sedang menahan rindu.

Sabtu, 13 September 2014

Pandanganku

Aku tidak tahu harus mulai dari mana, kisah ini begitu rumit. Perjalanan cinta remaja labil yang menumpahkan banyak air mata. Aku tahu seharusnya tidak sebegitu memikirkan tentang cinta saat masih berkelana mencari tujuan hidup di bangku sekolah. Entah harus melakukan apa agar cinta tak menguasaiku, menguasai setiap jengkal perasaan yang berujung air mata. Awalnya memang manis, menimbulkan semangat untuk meraih semua mimpi yang kubuat. Sampai pada akhirnya, cinta berubah menjadi sosok yang menakutkan, meraih semua anganku, memutuskan asa ini. Hanya tinggal raut wajah murung dan air mata yang menetes di pipi. Perasaan perempuan sangat sensitive, kami begitu mendewakan perasaan cinta kami kepada seorang laki-laki yang bahkan menjatuhkan air mata kami tanpa rasa bersalah, membuat hari-hari kami penuh dengan raut wajah kosong, membuat kamar kami berantakan dengan tisu bekas air mata yang kau buat. Kami paham air mata kami mahal, seharusnya kami tidak memberikannya kepada orang yang telah menyakiti kami. Tapi jika itu yang anda pikirkan anda salah, kami tidak menjatuhkan air mata kami dengan sia-sia. Kami menjatuhkan air mata karena mulut kami lelah untuk menjelaskan betapa hancurnya hati kamu akan sikap kalian yang meyakiti perasaan kami tanpa kalian sadari. Lalu jika kami tersakiti apa kami bisa langsung mengatakannya pada kalian? Maaf, cukup kami yang tau seberapa sakitnya, kalian jangan.

Menjalani hubungan memang tidak mudah (pada akhirnya). Awalnya memang mudah, penuh kata cinta, penuh kasih sayang, penuh canda tawa. Dan ketika hubunganmu sampai pada titik dimana banyak masalah yang datang. Salah satu diantara kita mempunyai alasan untuk bertahan, sedangkan yang lain mencari alasan untuk meninggalkan. Banyak wanita yang akan meninggalkanmu ketika mengetahui sifat aslimu. Bisa kau hitung siapa saja wanita yang tetap bertahan, memang tak banyak. Mereka yang bertahan adalah mereka yang memiliki satu alasan untuk tetap tinggal walaupun berdarah-darah. Seharusnya kalian para pria sadar, wanita seperti itu harusnya kalian pertahankan. Mereka menjelaskan rasa cintanya dengan rasa sakit ketika melihat kalian lebih nyaman dengan wanita lain, lalu dengan air mata yang jatuh karena hatinya tercabik-cabik. Mereka lemah, tidak setegar kalian yang bisa membuat air matanya terjatuh. Mungkin kalian berfikir kalau mereka overprotective, mereka hanya ingin kalian tau bahwa mereka mencintaimu dan mereka menginginkan kalian tidak menyakitinya terus menerus. Memang tak bisa dimengerti dengan logika, cinta itu masalah hati, pakai perasaan. Bukan berarti tidak pakai logika, tapi lebih banyak menggunakan perasaan. Wanita sulit ditebak, banyak yang bisa menyembunyikan rasa sakitnya dalam tawa yang menyejukkan. Namun banyak juga mereka yang tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya, mungkin karena terlalu sakit.

Rindu. Rasa yang setiap detik menyiksa kami, sebagai perempuan. Banyak pria yang menganggap rindu hanya datang jika lama tidak bertemu. Anda salah. Kami merasakannya setiap waktu, rasa ini memang tidak bisa dimengerti dengan logika. Kami mengatakan bahwa kami rindu bukan berarti kami menuntut pertemuan. Bukan! Kami hanya ingin kalian tau bahwa kami rindu, rasa ini tidak semudah dan semenyenangkan yang kalian fikirkan. Rasa ini menyiksa kami, maka dari itu kami mengatakannya pada kalian. Apa susahnya mengatakan “aku juga rindu kamu” untuk sekedar menyenangkan kami. Itu yang kami inginkan, setelah itu mungkin rindu tidak terlalu menyiksa kami ‘lagi’.




Perempuan yang rela berdarah darah demi pria-nya.