Ingatkah saat kita pertama kali bertemu, di lapangan basket
belakang sekolah. Suatu pertemuan yang tak kuduga akan membuahkan kenangan
sebesar ini. Sejauh kita bersama, selama tiga tahun terakhir. Aku tak ingin
kebersamaan ini berakhir, canda tawamu, tangismu, pelukmu, semua telah membekas
di memori. Dengan air mata yang mulai mengalir di pipi, aku ingin bercerita
tentang ‘kita’. Akan ku ajak kalian mengais masa lalu, memutar memori tentang
kita.
Ingatkah dulu? Saat kita disatukan dalam satu pleton yang mewakili
salah satu sekolah menengah pertama di daerah Sleman? Jelas kuingat, saat itu
kita masih polos, tidak tahu apa itu baris-berbaris, apa itu langkah tegap, apa
itu jalan ditempat. Seiring berjalannya waktu, lomba pertama yang kita jalani
meraih peringkat ke-39. Dengan jerih payah, keringat yang menetes di sela sela
latihan, kita bisa naik ke peringkat 4.
Perjalanan kita tidak mudah, untuk sampai di titik ini. Masih
ingat beberapa diantara kita keluar dari tonti, begitu juga aku? Aku bersyukur,
pada saat itu aku memilih masuk pleton lagi, ya setelah perjuangan beberapa
dari kalian yang membujukku kembali bahkan dengan airmata. Ingat saat latian di
lapangan basket? Pleton kita hanya berjumlah 23 kalau tidak salah, dan pada
saat itu kita masih tidak bertanggung jawab. Airmata mulai mengucur deras saat
melihat Bella, selaku ketua pleton kita harus menanggung semua kesalahan kita
dengan push up sebanyak itu. Dan sore itupun berlalu, dengan air mata yang tak
terhitung.
Tonti bukan hanya masalah baris berbaris, bukan hanya
kedisiplinan, tapi rasa kekeluargaan, dan kebersamaan antara satu dengan yang
lain. Sejak dua bulan terakhir, aku merasa takut kehilangan kalian, jadah. Ya,
nama pleton kami memang jadah, beberapa orang menyebutnya spegama jadah. Pelatih
kami yang memberi nama itu. Katanya, jadah itu lengket, tak terpisahkan. Pleton
adik kelas kami namanya tempe. Jika disatukan menjadi Jadah Tempe, yang
merupakan makanan khas daerah Sleman. Dengan harapan, jadah tempe bisa
membanggakan daerah Sleman.
Terimakasih atas pengorbanan kalian jadah, kita bisa masuk
tiga besar di lomba PPI Sleman, mewujudkan cita-cita untuk menginjakkan kaki di
Mandala Krida dalam PPI DIY dengan seragam ‘telo’ kebanggaan kami. Pulang
magrib, hujan-hujanan, push up di aspal, kaki-tangan pegel-pegel, badan remuk,
dan semua perjuangan kami, membuahkan hasil, peringkat 5 PPI DIY ada di tangan
kami, tentunya dengan jerih payah pelatih yang dengan sabar melatih kami
meskipun kami ‘mblung’. Terimakasih yang sebesar besarnya kami ucapkan untuk
Kak Yollan, Kak Nur, dan Kak Ulfa. Kalian adalah guru terbaik kami, bukan hanya
guru tonti, namun guru yang mengajarkan kehidupan luarbiasa untuk kami.
Aku sampai lupa ingin menceritakan ini. Kejadian yang
terjadi dua hari yang lalu, sepulang dari lomba di Mandala krida. Setelah menyelesaikan
4 pos, sebenarnya kami ingin tetap disana, menunggu pengumuman hasil lomba. Kami
yakin kami bisa masuk 5 besar, meskipun begitu kami juga siap pada kemungkinan
terburuk, untuk pulang dengan tangan hampa. Namun keinginan ini tak mungkin
terjadi, kami harus pulang ke sekolah, itu peraturan dari sekolah. Sesampainya di
sekolah, kami menangis, menyesal kenapa kami tidak bisa melihat pengumuman
hasilnya disana, mungkin bagi sebagian dari anda berfikir bahwa ini terlihat
berlebihan. Terserah anda menilai kami bagaimana, tapi kami ingin melihat
pengumuman, kami yakin akan perjuangan kami, jika panitia akan menyebut nama
sekolah kami saat mengumumkan peringkat 1-5 nanti. Kami ber-sebelas, nekat
untuk kembali ke mandala krida, tanpa suruhan dari siapapun apalagi pelatih. Kami
sudah mengantongi izin dari orangtua kami, meskipun hanya uang seadanya yang
tersisa, kami berangkat ke terminal Jombor untuk naik Trans Jogja. Sekitar pukul
2 siang, kita sampai lagi di Mandala Krida. Siap akan konsekuensi yang harus
diterima jika dimarahi guru. Perjuangan kami kembali ke Mandala Krida tidak
sia-sia, panitia menyebut nama sekolah kami saat menyebutkan juara harapan dua.
Syukur Alhamdulillah.
Perjalanan pulang
dari Mandala Krida menuju sekolah yang takkan kulupa, bersama pelatih super. Canda
tawa di dalam bis, yang juga kuratapi dengan mengingat ini adalah lomba
terakhir kami. Takkan ada lagi push up ditengah gerimisnya hujan di lapangan
pemda, takkan ada lagi pulang magrib yang berakhir dengan nasihat orangtua,
takkan ada lagi marahnya Kak Yollan jika kami tak mau angkat tinggi karna
kelelahan, takkan ada lagi peluk hangat Kak Ulfa saat air mata kami menetes,
takkan ada lagi selfie konyol bareng Kak Nur. Ku mohon, jangan jadikan ini
perpisahan, aku tak ingin berpisah dengan kalian. Dapatkah semua kenangan ini
terulang? Jangan lupakan aku, jangan lupakan kami. Takkan mungkin kulupakan kalian,
apalagi kenangan kita. Seiring derai tawa dan tangis yang tercipta kau masih
keluarga kami. Dan kita akan tetap menjadi keluarga. Aku selalu merindukanmu, Spegama jadah.
Dari perempuan dengan jas
‘telo’ yang mencintai ‘jadah’nya.