Teruntuk kamu yang telah mengobati lukaku dan membawa pergi setengah
hatiku..
Selamat
malam, Tuan. Bagaimana kabarmu? Lama tak bertatap dalam suasana renyah yang
sering kita ciptakan dalam obrolan singkat di salah satu social media. Ah, aku jadi
merindukan emotikon serta rayuan manismu. Pelajaran seakan terlewatkan, sementara
besok aku harus melewati ujian tengah semester. Jariku lebih suka menuliskan tentangmu dibandingkan harus berkutat dengan materi yang melelahkan itu. Hey,
apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu sudah makan malam? Apa kamu sedang
belajar? Kamu sudah menjalankan ibadahmu kan? Maaf Sayang, bukannya aku bawel, aku
hanya rindu kamu.
Malam ini
dingin, hujan membuat malam ini semakin dingin. Memaksaku merindukanmu lebih dalam lagi. Aku rindu pelukmu. Dekapmu adalah tempat
bersandar ternyaman bagiku. Lelahku runtuh saat aku merasakan detak jantungmu, membuatku
tersenyum tipis, senyum bahagia. “Tuhan, jagalah dia untukku. Jangan biarkan dia
terluka sekecil apapun, jika harus ada yang terluka biar aku saja Tuhan. Aku sangat
mencintai dia.” Kataku waktu itu seraya
membalas pelukmu lebih erat.
Maafkan
aku Sayang, maafkan semua salahku. Aku yang membuatmu mencari pelarian atas
semua masalahmu. Harusnya aku bisa menjadi tempatmu bersandar, tempatmu mencurahkan
segala keluh kesah atas dunia yang kejam ini. Seharusnya aku bisa, seharusnya……… Apa
yang bisa aku lakukan untuk melindungimu? Katakan, katakan saja Sayang. Aku memang
bukan wanita tegar yang dengan mudahnya menyembunyikan airmata lalu menunjukan
senyumnya, meskipun yang ia tunjukan senyum pura-pura. Aku tak bisa seperti
mereka Sayang, aku hanya perempuan yang senang menangis dalam tulisannya. Maaf karena airmataku
pernah terjatuh didepanmu, terimakasih telah menghapusnya dan memintaku tetap disisimu. Tapi aku berjanji akan menjagamu dengan cara apapun, menarikmu lalu berlari bersama saat kau lelah dengan semua ini. Tapi yang harus kamu ingat, meskipun aku adalah perempuan
cengeng, tapi aku tidak pernah menjual airmataku agar dikasihani oleh siapapun,
atau untuk mengambil hati seorang pria.
Semoga kamu
selalu menjadi pria manis yang kukenal dekat sejak enam bulan lalu. Semoga kamu
selalu menjadi pria yang menyayangiku dengan tulus. Semoga rasamu abadi, meski
kutahu tidak ada yang abadi di dunia ini selain Tuhan. Semoga kamu selalu
menjadi alasan mengapa aku tersenyum sementara kamu tak melakukan apapun. Semoga
kamu selalu bahagia.
Sejak enam
bulan lalu, kamulah jawaban atas doaku. Sejak enam bulan lalu, kamu yang
terbaik. Sejak enam bulan lalu, cuma kamu yang dapat menyakiti saya. Sejak enam
bulan lalu, cuma kamu yang bisa jadi obatnya. Sejak enam bulan, lalu….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar