Senin, 09 Maret 2015

Semogaku untuk kamu


Teruntuk kamu yang telah mengobati lukaku dan membawa pergi setengah hatiku..




                Selamat malam, Tuan. Bagaimana kabarmu? Lama tak bertatap dalam suasana renyah yang sering kita ciptakan dalam obrolan singkat di salah satu social media. Ah, aku jadi merindukan emotikon serta rayuan manismu. Pelajaran seakan terlewatkan, sementara besok aku harus melewati ujian tengah semester. Jariku lebih suka menuliskan tentangmu dibandingkan harus berkutat dengan materi yang melelahkan itu. Hey, apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu sudah makan malam? Apa kamu sedang belajar? Kamu sudah menjalankan ibadahmu kan? Maaf Sayang, bukannya aku bawel, aku hanya rindu kamu.
                Malam ini dingin, hujan membuat malam ini semakin dingin. Memaksaku merindukanmu lebih dalam lagi. Aku rindu pelukmu. Dekapmu adalah tempat bersandar ternyaman bagiku. Lelahku runtuh saat aku merasakan detak jantungmu, membuatku tersenyum tipis, senyum bahagia. “Tuhan, jagalah dia untukku. Jangan biarkan dia terluka sekecil apapun, jika harus ada yang terluka biar aku saja Tuhan. Aku sangat mencintai dia.”  Kataku waktu itu seraya membalas pelukmu lebih erat.



                Maafkan aku Sayang, maafkan semua salahku. Aku yang membuatmu mencari pelarian atas semua masalahmu. Harusnya aku bisa menjadi tempatmu bersandar, tempatmu mencurahkan segala keluh kesah atas dunia yang kejam ini. Seharusnya aku bisa, seharusnya……… Apa yang bisa aku lakukan untuk melindungimu? Katakan, katakan saja Sayang. Aku memang bukan wanita tegar yang dengan mudahnya menyembunyikan airmata lalu menunjukan senyumnya, meskipun yang ia tunjukan senyum pura-pura. Aku tak bisa seperti mereka Sayang, aku hanya perempuan yang senang menangis dalam tulisannya. Maaf karena airmataku pernah terjatuh didepanmu, terimakasih telah menghapusnya dan memintaku tetap disisimu. Tapi aku berjanji akan menjagamu dengan cara apapun, menarikmu lalu berlari bersama saat kau lelah dengan semua ini. Tapi yang harus kamu ingat, meskipun aku adalah perempuan cengeng, tapi aku tidak pernah menjual airmataku agar dikasihani oleh siapapun, atau untuk mengambil hati seorang pria.
                Semoga kamu selalu menjadi pria manis yang kukenal dekat sejak enam bulan lalu. Semoga kamu selalu menjadi pria yang menyayangiku dengan tulus. Semoga rasamu abadi, meski kutahu tidak ada yang abadi di dunia ini selain Tuhan. Semoga kamu selalu menjadi alasan mengapa aku tersenyum sementara kamu tak melakukan apapun. Semoga kamu selalu bahagia.
                Sejak enam bulan lalu, kamulah jawaban atas doaku. Sejak enam bulan lalu, kamu yang terbaik. Sejak enam bulan lalu, cuma kamu yang dapat menyakiti saya. Sejak enam bulan lalu, cuma kamu yang bisa jadi obatnya. Sejak enam bulan, lalu….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar