Aku baru sadar ternyata kau memiliki kemampuan unik. Kemampuan
yang aku rasa jarang dimiliki oleh pria lain, membuat mata wanita bengkak
karena terlalu sering menangisi hal yang dengan mudahnya kau lupakan, cinta.
Kedatanganmu begitu sempurna, membuatku beranjak dari airmata tak berkesudahan, membuatku ingin mengenalmu lebih jauh lagi yang akhirnya membuatku kembali pada airmata lagi. Janjimu manis, namun bisu, tak bisa kau tepati. Dimana kamu yang tak akan menyakitiku? Apa tak menyakitiku berarti menghasilkan airmata sesering ini? Dimana kamu yang selalu menjaga hatiku? Sedangkan kamu dengan mudahnya memberikan kasih sayangmu kepada wanita lain. Apakah ini yang kau sebut menjaga hati? Maaf Tuan, aku memang wanita bodoh. Aku mengetahui segalanya, segala yang kau tutupi rapat-rapat. Tapi apa Tuan, aku masih disini, disampingmu. Memasang topeng seakan aku baik-baik saja. Kau melupakanku yang berusaha bertahan untukmu, Tuan pendusta.
Aku muak dengan topengmu, seringkali kau baik, seringkali kau picik. Apa aku hanya sebatas “boneka” yang bebas kau mainkan tanpa kau pedulikan perasaannya? Apa kau menganggapku seperti benda mati layaknya robot yang bisa kau sakiti dan kau bodohi kapanpun kamu mau? Kali ini aku sadar, usahaku untuk bertahan hanya kau anggap sampah. Kau bukan lagi pria baik yang dulu kukenal. Kau berubah menjadi orang asing yang tak kukenal. Keberadaanku tak mungkin lagi mengubahmu seperti dulu lagi, kamu bisa berdiri tegak tanpa bantuanku. Satu hal yang perlu kau tahu, aku tak menyesal pernah bersamamu, namun aku juga tak pernah menyesal karena meninggalkanmu.
dari bonekamu yang
malang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar